Saya cinta Indonesia karena...
ada saja yang membuat takjub.
Banyak yang bikin kita berdecak kagum dan takjub (baca: heran) soal Indonesia. Well, aside from its obviously beautiful magnificent nature, the behavior of its people sometimes make us, well, speechless. Ini tidak bisa ditemukan di manapun juga. Bagi saya kekreatifan, keberanian (atau lebih tepatnya kenekatan) dan kegigihan penduduk Indonesia (pada umumnya) untuk mencapai tujuan atau keinginannya, sungguh luar biasa.
Kehebatan para pengendara motor membawa barang-barangnya. Ban mobil, kaca segede rumah, pipa panjang, triplek, kayu gelondong, dus-dus, gerobak jualan, spoiler mobil, name it and they can carry just about anything on their motorcycles.
Bajaj atau tuctuc yang bentuknya sungguh menggemaskan sekaligus sudah tak karuan dengan karat merambah ke jalan aspal, perlu senantiasa mendapat perhatian penuh dari pengguna jalan lainnya. Hati-hati kalau berkendara di belakang atau samping si oranye ini. Manuvernya ajaib dan hanya diketahui si Abang dan Tuhan. Tapi ini juga adalah kendaraan yang tepat untuk melintasi keruwetan Jl. Tanah Abang. Been there done that!
Moto para pekerja Indonesia mungkin bisa diwakilkan oleh kalimat ini: Keselamatan Bukan Prioritas Kami. Hebat sekali para pekerja naik ke baliho, tiang listrik, pohon tinggi, bahkan gedung tanpa helm dan tali keselamatan. Atau biasanya, dengan tali tapi seadanya. Bukannya saya menyetujui safety yang dinomorduakan, tetapi saya sungguh salut melihat keberanian mereka untuk melaksanakan tugas.
Masih banyak yang bisa bikin kita geleng-geleng kepala, tapi di saat yang bersamaan juga membuat kita ingin membagi berbagai hal menakjubkan itu sebagai bahan pembicaraan tentang keunikan bangsa ini, bahkan dengan teman-teman dari negara lain. Maka untuk kegigihan, saya angkat topi. Mari kita kolaborasi membuat buku?
Post ini ada di proyek alasan mencintai Indonesia milik kawan saya, Andini (namanya sama ya)
Wednesday, July 28, 2010
Monday, July 26, 2010
I wanna...
...go on a trip, with you...taking nice pictures,
...see extraordinary views,
...laugh at all odd things we see on roads
...take a vacation........
Tuesday, July 20, 2010
GOODLIFE
![]() |
| Edisi Perdana Juli 2010 Cover: Marcella Zalianty. Photographer: Okke Gania. Make-up Artist: Mia. Stylist: Valeska. |
Penerbit: PT Simple Media. Alamat: Jl, Panglima Polim X No. 16, Jakarta Selatan 12160. Editor-in-Chief: Nico Siahaan. Managing Editor: Toto Tentrem. Writers: Nuzul Akbar Nazar; Veni Duty Inovanty. Contributors: Andini Darmadi; Poltak Hotradero; Dian Prima; Okke Gania; SKAS - Studio 247l. Art Director: Freddy Handyside. Graphic Designer: Aditya Zadewa. Photographer: Yongki Hermawan. Sales Advertising & Marketing Communication: Ade Herviany; Franky Oberto. Accounting: Gea Irraselda. Distribution: Iman Adisoma. Project Manager: Kiki Jaumil. Managing Director: Aoura Lovenson Chandra. Directors: Gundo Susiarjo; Wandy Wauran; Adi Haryono. Sources: Dr. Reinhard Purwana, MD SPKK; Telly Djoko; Dana Mahmud; Azwar Hadi Kusuma; Tjipto 'Kiki' Widodo; Aris Yashadana.
Motto: It's a Journey - Not a Destination. Ini adalah majalah gaya hidup, khususnya untuk golfer. Isinya, selain aneka informasi mengenai golf, juga ada tentang kesehatan, seks, otomotif, keuangan, dan lain-lain. Beberapa nama rubriknya, antara lain, Cover Story; Golf Course; Course Management; Club Profile; Golf Equipment; Sex; Fitness; Health; dan masih banyak lagi.
Saturday, July 10, 2010
waka waka
You’re a good soldier Choosing your battles
Pick yourself up And dust yourself off
Get back in the saddle
You’re on the front line
Everyone’s watching You know it’s serious
We’re getting closer This isn’t over
The pressure’s on; you feel it But you got it all; believe it
When you fall, get up, oh oh And if you fall, get up, eh eh
Tsamina mina zangalewa Cause this is Africa
Tsamina mina eh eh Waka waka eh eh
Tsamina mina zangalewa This time for Africa
Listen to your god; this is our motto Your time to shine
Don’t wait in line Y vamos por todo
People are raising their expectations Go on and feel it
This is your moment No hesitation
Today’s your day I feel it
You paved the way, Believe it
If you get down Get up oh, oh
When you get down, Get up eh, eh
Tsamina mina zangalewa This time for Africa
Tsamina mina eh eh Waka waka eh eh
Tsamina mina zangalewa Anawa aa
Tsamina mina eh eh Waka waka eh eh
Tsamina mina zangalewa
This time for Africa
Pick yourself up And dust yourself off
Get back in the saddle
You’re on the front line
Everyone’s watching You know it’s serious
We’re getting closer This isn’t over
The pressure’s on; you feel it But you got it all; believe it
When you fall, get up, oh oh And if you fall, get up, eh eh
Tsamina mina zangalewa Cause this is Africa
Tsamina mina eh eh Waka waka eh eh
Tsamina mina zangalewa This time for Africa
Listen to your god; this is our motto Your time to shine
Don’t wait in line Y vamos por todo
People are raising their expectations Go on and feel it
This is your moment No hesitation
Today’s your day I feel it
You paved the way, Believe it
If you get down Get up oh, oh
When you get down, Get up eh, eh
Tsamina mina zangalewa This time for Africa
Tsamina mina eh eh Waka waka eh eh
Tsamina mina zangalewa Anawa aa
Tsamina mina eh eh Waka waka eh eh
Tsamina mina zangalewa
This time for Africa
Monday, June 21, 2010
privacy is privacy
negara ini memang lucu. katanya harus menghargai kebebasan manusia, tapi tak bisa mengatur kebebasan itu. yang namanya privasi, jadi guyonan.
semua bilang menghargai privasi, tapi saat mengejar berita, tak main-main privasi ini dilanggar.
pernah lihat lebah marah yang merubung? belum? nyalakan saja tv dan lihat mereka merubung mobil narasumber. terkepung sangat.
ada yang tertabrak? wah, itu akibatnya melanggar privasi. pasti jadi senggol bacok dalam keadaan seramai itu. narasumber sperti dijebloskan dalam lubang dan ditutup aksesnya. sebal sekali juga melihat ada yang membuka tirai agar kameranya masuk. apa itu?
my guilty pleasure is watching E! dan nonton acara tentang paparazzi mengejar berita dan mengikuti narasumber. mereka banyak, mereka mendekat, tapi lihat, selalu menjaga jaraknya minimal 1 meter dari si narasumber. itu baru memberi privasi.
makanya, kalau sampai ada yang lapor ke polisi baik si pengejar atau yang dikejar, itu benar2 masalah serius dan ada privasi yang dilanggar. saya gak mau paparkan banyak2, cari tahu saja informasinya, bertebaran di internet kok.
so, please DO respect privacy
semua bilang menghargai privasi, tapi saat mengejar berita, tak main-main privasi ini dilanggar.
pernah lihat lebah marah yang merubung? belum? nyalakan saja tv dan lihat mereka merubung mobil narasumber. terkepung sangat.
ada yang tertabrak? wah, itu akibatnya melanggar privasi. pasti jadi senggol bacok dalam keadaan seramai itu. narasumber sperti dijebloskan dalam lubang dan ditutup aksesnya. sebal sekali juga melihat ada yang membuka tirai agar kameranya masuk. apa itu?
my guilty pleasure is watching E! dan nonton acara tentang paparazzi mengejar berita dan mengikuti narasumber. mereka banyak, mereka mendekat, tapi lihat, selalu menjaga jaraknya minimal 1 meter dari si narasumber. itu baru memberi privasi.
makanya, kalau sampai ada yang lapor ke polisi baik si pengejar atau yang dikejar, itu benar2 masalah serius dan ada privasi yang dilanggar. saya gak mau paparkan banyak2, cari tahu saja informasinya, bertebaran di internet kok.
so, please DO respect privacy
Thursday, June 17, 2010
tak ada hakim di sini.
belakangan ini, rakyat Indonesia digemparkan dengan launching video baru. pemainnya (diduga) tiga artis terkenal di jagat raya Indonesia ini.
Reaksi pertama masyarakat? Heboh, gempar, ingin lihat video.
Reaksi kedua? Gosip beredar, memberi label di jidat mereka
Reaksi ketiga? Mulai menghujat. Terus memberi label pada mereka.
Begini, bukannya tidak sedih melihat hal seperti ini terjadi pada mereka. Ingat, mereka memang artis, tapi tetap manusia (jadi ingat sebuah lagu). Intinya, stop hujat mereka. Memang, perbuatan itu dianggap salah, tapi itu keputusan mereka. Pilihan hidup mereka. Keinginan mereka. Tak sepantasnya kita ikut campur dan mengatur atur apa yang harus dilakukan orang lain.
Sekarang makin banyak orang tampil bicara mengomentari masalah ini. Macam-macam komentar. Tapi paling tak tahan dengar mereka yang berkomentar soal ini dosa, ini tak pantas, sampe ada yang nyuruh sumpah pocong (WTH? Sangat tidak intelek). Hey come on. Kalian juga bukan manusia suci. Kita tak tahu apa yang terjadi di balik muka tivi kalian itu. Jangan-jangan turut menyimpan aib?
Alasan yang paling banyak digunakan: moral. Moral itu apakah hanya sebatas hubungan seksual? Kalian tahu lebih baik. Moral itu lebih daripada melakukan hubungan seks.
Banyak anak2 yang kecewa terhadap tiga artis ini, membakar benda2 keartisan dan demo di sekolahnya. ada juga yang rusuh. Apa ini pantas? Ini hanya mengajarkan bahwa segala sesuatunya dapat diprotes dengan pembakaran, perusakan dan demo. Ada cara intelek loh.
Apakah kelakuan seperti itu yang kalian suka dari anak2? Jadi anarkis? Moral kalian bicarakan?
Alasan lain: dilihat anak-anak. Pertanyaannya: Kenapa bisa sampai dilihat anak-anak? Internet? Tv? Tapi sekarang ini kan sudah jaman kebebasan informasi. Siapa pun punya akses. Bagaimana dengan kontrol akses tersebut? Lalu kalau mereka sudah liat, diberikan pengertian dong. Lebih baik mereka mengerti daripada tahunya hanya setengah-setengah terus nanti nyoba sendiri dan malah terjadi yang aneh2. *amitamit*
Ayolah, seks itu bukan sesuatu yang tabu. Itu bisa diberikan pengertian. Indonesia ini emang aneh, seks itu dianggap penyakit. (Liat aja sex education di Indonesia yang hanya menitikberatkan dampaknya: yaitu penyakit menular seksual, hal lainnya hanya jadi hiasan.)
Lalu lebih jahat lagi adalah pelabelan. Dipermalukan di publik seperti ini sudah seperti hukuman dan neraka buat mereka. Tak perlu lagi dilabeli. Come on guys, think smarter. Tolong disikapi dengan dewasa. Kesal rasanya melihat orang2 yang komentar di TV berbicara seperti orang yang paling suci, paling pintar, paling tahu apa yang harus dilakukan seorang manusia, paling jago (jago apa), paling sempurna di muka bumi. Ihh mati deh.
Sorry guys, but I'm so sick of all your saint acts like u are the purest (scratch human) being of this world.
Hoeeekkk.
Reaksi pertama masyarakat? Heboh, gempar, ingin lihat video.
Reaksi kedua? Gosip beredar, memberi label di jidat mereka
Reaksi ketiga? Mulai menghujat. Terus memberi label pada mereka.
Begini, bukannya tidak sedih melihat hal seperti ini terjadi pada mereka. Ingat, mereka memang artis, tapi tetap manusia (jadi ingat sebuah lagu). Intinya, stop hujat mereka. Memang, perbuatan itu dianggap salah, tapi itu keputusan mereka. Pilihan hidup mereka. Keinginan mereka. Tak sepantasnya kita ikut campur dan mengatur atur apa yang harus dilakukan orang lain.
Sekarang makin banyak orang tampil bicara mengomentari masalah ini. Macam-macam komentar. Tapi paling tak tahan dengar mereka yang berkomentar soal ini dosa, ini tak pantas, sampe ada yang nyuruh sumpah pocong (WTH? Sangat tidak intelek). Hey come on. Kalian juga bukan manusia suci. Kita tak tahu apa yang terjadi di balik muka tivi kalian itu. Jangan-jangan turut menyimpan aib?
Alasan yang paling banyak digunakan: moral. Moral itu apakah hanya sebatas hubungan seksual? Kalian tahu lebih baik. Moral itu lebih daripada melakukan hubungan seks.
Banyak anak2 yang kecewa terhadap tiga artis ini, membakar benda2 keartisan dan demo di sekolahnya. ada juga yang rusuh. Apa ini pantas? Ini hanya mengajarkan bahwa segala sesuatunya dapat diprotes dengan pembakaran, perusakan dan demo. Ada cara intelek loh.
Apakah kelakuan seperti itu yang kalian suka dari anak2? Jadi anarkis? Moral kalian bicarakan?
Alasan lain: dilihat anak-anak. Pertanyaannya: Kenapa bisa sampai dilihat anak-anak? Internet? Tv? Tapi sekarang ini kan sudah jaman kebebasan informasi. Siapa pun punya akses. Bagaimana dengan kontrol akses tersebut? Lalu kalau mereka sudah liat, diberikan pengertian dong. Lebih baik mereka mengerti daripada tahunya hanya setengah-setengah terus nanti nyoba sendiri dan malah terjadi yang aneh2. *amitamit*
Ayolah, seks itu bukan sesuatu yang tabu. Itu bisa diberikan pengertian. Indonesia ini emang aneh, seks itu dianggap penyakit. (Liat aja sex education di Indonesia yang hanya menitikberatkan dampaknya: yaitu penyakit menular seksual, hal lainnya hanya jadi hiasan.)
Lalu lebih jahat lagi adalah pelabelan. Dipermalukan di publik seperti ini sudah seperti hukuman dan neraka buat mereka. Tak perlu lagi dilabeli. Come on guys, think smarter. Tolong disikapi dengan dewasa. Kesal rasanya melihat orang2 yang komentar di TV berbicara seperti orang yang paling suci, paling pintar, paling tahu apa yang harus dilakukan seorang manusia, paling jago (jago apa), paling sempurna di muka bumi. Ihh mati deh.
Sorry guys, but I'm so sick of all your saint acts like u are the purest (scratch human) being of this world.
Hoeeekkk.
Thursday, June 3, 2010
menikah?
Menikah. Banyak perempuan sudah merencanakan pernikahannya sejak belum bertemu sang pangeran. Gaun seperti apa yang akan dipakai, bagaimana rambut dan riasan, dekor seperti apa, mau kue berapa tingkat, sepatu kaca atau sepatu kain, semua sudah dirancang. Memang perempuan seringkali agak gila, tapi memang itu yang terjadi. Dan ketika sudah besar, bertambah lagi daftar di rancangan itu, mengikuti selera. Tapi juga berkurang sedikit, atau disesuaikan sedikit, mengikuti kemampuan kantong. Ketika sudah bertemu sang calon, makinlah terbayang susunan acara, pengisi acara dan lain-lainnya.
Menikah.Ketika sudah besar, perempuan kecil mulai dihadapkan pada kenyataan: susah mencari pasangan yang katanya the one. Ingin yang begini, yang begitu, dia kurang begini, kurang begitu, dia ternyata begini, ternyata begitu. Ada saja masalah yang mungkin mengganggu jalan menuju pelaminan ini.
Tuntutan keluarga untuk segera menikah, seringkali jadi beban tersendiri. Kalau belum punya pacar, pasti muncul pertanyaan, “Kok belum punya pacar?” Yah, memang belum, terus kenapa. “Memangnya gak ada cowok yang mau?” Mau kok, buktinya punya teman cowok banyak. Dan seterusnya. Kalau sudah punya pacar, beban pertanyaannya naik satu level. “Kapan mau diresmikan?” Yah, baru juga pacaran. “Kapan mau nikah?” Wah, belum tahu tuh.
Saya pun mengalami semua hal itu. Seluruh jawaban sepertinya sudah pernah saya keluarkan, sehingga akhirnya hanya bisa mengulas senyum sebagai jawaban. “Pacarnya siapa?” Ada. “Kapan menikah?” *senyum*
Friday, May 14, 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)







