Showing posts with label emotion. Show all posts
Showing posts with label emotion. Show all posts

Friday, June 17, 2011

a balloonist epilog

jadi gini, dengan semua perkembangan yang terjadi dalam dunia dan dalam diri sendiri, banyak hal yang mungkin berkembang, menyusut, mengempis, menggembung atau hanya tertahan saja. Semua hal yang mengikuti bentuk-bentuk tadi sebenarnya mungkin belum tahu mau diapain. Ada perkataan dalam Alkitab, yang bilang bahwa "segala sesuatu akan indah pada waktunya."

Mungkin sesuatu sengaja dikempiskan, agar bisa digembungkan kembali suatu saat, ketika waktunya dirasa sudah tepat. Oleh kita, olehNya, oleh orang-orang. Mungkin memang saat itu dikembangkan dulu, lalu ditahan hanya sampai disana, agar nanti bisa berbunga di suatu hari yang indah itu. 

Entahlah, jika dari semuanya ini, memang belum saatnya, baiklah. Akan terus mencoba berbagai hal yang mungkin, seperti balon, belum tertiup sempurna atau maksimal tapi sudah diikat karena sang peniup sudah kehabisan nafas. Sekarang, si peniup balon ini harus banyak-banyak latihan nafas dan berguru ke sana sini soal pernafasannya, agar pada suatu waktu yang indah nanti, ia dapat meniup balonnya dengan sempurna dan terikat kuat.

Yang pasti, peniup balon ini sebenarnya bisa meniup balonnya sekarang. Benar? Tapi belum sempurna. Ia perlu menyempurnakan tiupannya. Ia perlu memperbaiki tekniknya. Ia perlu belajar pada kesalahannya. Ia perlu mengembangkan apa yang sudah dikerjakan dengan benar.

Jika memang ini saatnya, atau belum saatnya. Jangan menyerah.

Thursday, June 16, 2011

Otak Tycoon

Setiap pagi, kita terbangun untuk menatap langit-langit kamar. Lalu menengok kanan kiri, melihat keadaan sekeliling. Orang terkasih, guling dan bantal yang bertebaran, atau boneka teman tidur. Meraih handphone, mematikan alarm. Sambil berpikir apa yang akan dilakukan hari ini, mau pakai baju apa dan sepatu apa. Duduk di sisi tempat tidur, mulai membaca pesan-pesan yang masuk di handphone selama kita tertidur. Kemudian melangkahkan kaki ke arah kamar mandi. Membuang hasil endapan semalam, terserah dari mana saja. Pikiran kembali bekerja, mandi dulu atau meraih sarapan dulu. Ah, mandi dulu saja.

Saat dihujani dengan air mandi inilah, pikiran mulai terbangun dan dijahili oleh berbagai macam pikiran, pertimbangan, masukan, saran, kritik, semuanya campur aduk. Operator otak pasti sedang sibuk mengolahnya. Dalam bayanganku, mungkin dia seperti produser tayangan langsung di televisi yang sedang sibuk menunjuk-nunjuk dan mengarahkan krunya untuk pindah dari kamera satu ke kamera lainnya. "Iklan!" Begtiu mungkin teriaknya. Dan saat itu sepertinya kita tersadar dari lamunan di bawah pancuran air.

Berbagai pikiran memang datang silih berganti. Ada shiftnya, ada gilirannya. Hari ini mungkin yang jadi tema pikiran adalah pekerjaan, hari berikutnya keuangan, hari berikutnya liburan, hari berikutnya kosong alias tak mikir apa-apa, hari berikutnya merancang akhir pekan, hari berikutnya keluarga, dan begitu seterusnya. Kali ini, bagian pengarsipan otak yang sibuk. Mencari box arsip lalu menambahkan catatan baru pemikiran dalam arsipnya. Lalu ketika pikiran kita mulai berpindah ke topik lain, si pengarsip pun sibuk mengembalikan box sebelumnya dan segera mencari box berikutnya. I wonder ada berapa pekerja di bagian arsip. Dan berapa besar ruangan arsip otak kita ini.

Setiap saat kita menatap atau hanya sekedar melihat sesuatu dengan mata ini, pasti ada saja sesuatu yang terbersit di dalam pikiran ini. Kadang hanya sepintas lalu, kadang jadi dipikirin. Ah, mungkin sedang melankolis saja. Tidak, setiap benda seperti menjadi pengingat akan sesuatu hal. Sesuatu hal yang boleh dipikirkan lebih lanjut atau sebaiknya hanya jadi obrolan ringan. Nah, kali ini saja otaknya sudah bingung, jadi maunya bagaimana.

Memang, Tuhan itu begitu hebat menciptakan ini semua. Jika saja dengan mudah manusia bisa mengakses semua arsip dalam otaknya, tanpa perlu bantuan si pengarsip itu. Jika saja semuanya semudah bermain the Sims atau semua game Tycoon itu. Jika saja.


Monday, November 22, 2010

perubahan itu tidak mudah

Jadi, ibu ini selama puluhan tahun bekerja di kantor. Kini ia tak lagi bekerja di kantor, dan merasa semangat ingin melakukan sesuatu. Kali ini, pilihannya jatuh ke berdagang, jualan. Produk yang dipilih, makanan.
Pada hari itu, tidak, bahkan satu hari sebelum itu, sudah tampak bahwa dirinya belum siap untuk melakukan jual menjual ini. Semua terlihat dari polah dan bicaranya. Sungguh jelas, bahwa hati dan mentalnya belum (atau tidak) siap untuk perubahan semacam ini.

Ini adalah perubahan besar. Dari yang duduk enak di kantor, dimana yang kerja berat adalah si otak, menjadi kerja keras dengan tenaga dan daya upaya pribadi, di tempat yang selalu berubah suasana, lokasi dan tetamunya.

Dan benar saja, bahwa memang itulah yang dirasakan. Bukan berarti menyerah, hanya tidak ingin turun tangan dengan tenaga seperti itu. Cukup otak saja yang bekerja, mungkin demikian.

Yah, memang itu sudah sangat terbaca. Mendengar kisah orang lain dan merasakan sendiri itu hal adalah dua kutub magnet yang berlawanan. Bagaimana pun, sifat orang berbeda-beda, tipe bekerja juga berbeda-beda. This is just not her type. Marry another job. Hopefully she will find the perfect type of job to marry after the years of work at the office.

Berubah itu bukan hal yg mudah. Untuk berubah adalah perjuangan -Herwindra Aiko Senosoenoto

Thursday, August 5, 2010

lamunan syukur

Hari ini tiba juga. Tanggal 6, yang setiap tahun dirayakan dengan doa. Setiap tahun berganti, doa yang dipanjatkan juga tak jauh berbeda, mungkin bertambah satu atau dua perihal, mungkin juga berkurang satu atau dua perihal. 

Saya seringkali melamun, membayangkan kehidupan di masa depan, far far away.  
Seringkali saya jadi takut, membayangkan masa depan yang tak diketahui aralnya.
Seringkali saya jadi semangat, membayangkan masa depan hasil imajinasi saya.
Seringkali saya jadi gelisah, membayangkan risiko yang mungkin menjadi nyata.
Seringkali saya jadi senang, membayangkan kebahagiaan yang akan tiba.

Memang, hidup itu harus dipandang dari berbagai sudut. Karena hidup itu punya banyak sisi.
Hidup memang hanya sekali, dan waktu tak dapat diputar kembali.
Namun banyak hal yang layak disyukuri, karena dari semua sisi pasti ada hal baik yang bisa diambil sarinya. 

Namun kadang, lamunan itu berlari di kepala. Dan manusia hanya perlu belajar untuk melamunkan hal lain. Bersyukur. 

saya bersyukur, karena bisa menatap masa depan dengan gembira
saya bersyukur, karena dapat berimajinasi akan masa depan saya
saya bersyukur, karena memiliki kemampuan untuk bertahap mewujudkan masa depan
saya bersyukur, karena saya bahagia.

Aku sayang kalian semua. Thank you.




Monday, July 26, 2010

I wanna...

...go on a trip, with you
...taking nice pictures,
...see extraordinary views,
...laugh at all odd things we see on roads
...take a vacation........

Thursday, June 17, 2010

tak ada hakim di sini.

belakangan ini, rakyat Indonesia digemparkan dengan launching video baru. pemainnya (diduga) tiga artis terkenal di jagat raya Indonesia ini.

Reaksi pertama masyarakat? Heboh, gempar, ingin lihat video.
Reaksi kedua? Gosip beredar, memberi label di jidat mereka
Reaksi ketiga? Mulai menghujat. Terus memberi label pada mereka.

Begini, bukannya tidak sedih melihat hal seperti ini terjadi pada mereka. Ingat, mereka memang artis, tapi tetap manusia (jadi ingat sebuah lagu). Intinya, stop hujat mereka. Memang, perbuatan itu dianggap salah, tapi itu keputusan mereka. Pilihan hidup mereka. Keinginan mereka. Tak sepantasnya kita ikut campur dan mengatur atur apa yang harus dilakukan orang lain.

Sekarang makin banyak orang tampil bicara mengomentari masalah ini. Macam-macam komentar. Tapi paling tak tahan dengar mereka yang berkomentar soal ini dosa, ini tak pantas, sampe ada yang nyuruh sumpah pocong (WTH? Sangat tidak intelek). Hey come on. Kalian juga bukan manusia suci. Kita tak tahu apa yang terjadi di balik muka tivi kalian itu. Jangan-jangan turut menyimpan aib?

Alasan yang paling banyak digunakan: moral. Moral itu apakah hanya sebatas hubungan seksual? Kalian tahu lebih baik. Moral itu lebih daripada melakukan hubungan seks.
Banyak anak2 yang kecewa terhadap tiga artis ini, membakar benda2 keartisan dan demo di sekolahnya. ada juga yang rusuh. Apa ini pantas? Ini hanya mengajarkan bahwa segala sesuatunya dapat diprotes dengan pembakaran, perusakan dan demo. Ada cara intelek loh.
Apakah kelakuan seperti itu yang kalian suka dari anak2? Jadi anarkis? Moral kalian bicarakan?

Alasan lain: dilihat anak-anak. Pertanyaannya: Kenapa bisa sampai dilihat anak-anak? Internet? Tv? Tapi sekarang ini kan sudah jaman kebebasan informasi. Siapa pun punya akses. Bagaimana dengan kontrol akses tersebut? Lalu kalau mereka sudah liat, diberikan pengertian dong. Lebih baik mereka mengerti daripada tahunya hanya setengah-setengah terus nanti nyoba sendiri dan malah terjadi yang aneh2. *amitamit*
Ayolah, seks itu bukan sesuatu yang tabu. Itu bisa diberikan pengertian. Indonesia ini emang aneh, seks itu dianggap penyakit. (Liat aja sex education di Indonesia yang hanya menitikberatkan dampaknya: yaitu penyakit menular seksual, hal lainnya hanya jadi hiasan.)

Lalu lebih jahat lagi adalah pelabelan. Dipermalukan di publik seperti ini sudah seperti hukuman dan neraka buat mereka. Tak perlu lagi dilabeli. Come on guys, think smarter. Tolong disikapi dengan dewasa. Kesal rasanya melihat orang2 yang komentar di TV berbicara seperti orang yang paling suci, paling pintar, paling tahu apa yang harus dilakukan seorang manusia, paling jago (jago apa), paling sempurna di muka bumi. Ihh mati deh.

Sorry guys, but I'm so sick of all your saint acts like u are the purest (scratch human) being of this world.

Hoeeekkk.

Thursday, June 3, 2010

menikah?


Menikah. Banyak perempuan sudah merencanakan pernikahannya sejak belum bertemu sang pangeran. Gaun seperti apa yang akan dipakai, bagaimana rambut dan riasan, dekor seperti apa, mau kue berapa tingkat, sepatu kaca atau sepatu kain, semua sudah dirancang. Memang perempuan seringkali agak gila, tapi memang itu yang terjadi. Dan ketika sudah besar, bertambah lagi daftar di rancangan itu, mengikuti selera. Tapi juga berkurang sedikit, atau disesuaikan sedikit, mengikuti kemampuan kantong. Ketika sudah bertemu sang calon, makinlah terbayang susunan acara, pengisi acara dan lain-lainnya. 

Menikah.Ketika sudah besar, perempuan kecil mulai dihadapkan pada kenyataan: susah mencari pasangan yang katanya the one. Ingin yang begini, yang begitu, dia kurang begini, kurang begitu, dia ternyata begini, ternyata begitu. Ada saja masalah yang mungkin mengganggu jalan menuju pelaminan ini.
Tuntutan keluarga untuk segera menikah, seringkali jadi beban tersendiri. Kalau belum punya pacar, pasti muncul pertanyaan, “Kok belum punya pacar?” Yah, memang belum, terus kenapa. “Memangnya gak ada cowok yang mau?” Mau kok, buktinya punya teman cowok banyak. Dan seterusnya. Kalau sudah punya pacar, beban pertanyaannya naik satu level. “Kapan mau diresmikan?” Yah, baru juga pacaran. “Kapan mau nikah?” Wah, belum tahu tuh. 

Saya pun mengalami semua hal itu. Seluruh jawaban sepertinya sudah pernah saya keluarkan, sehingga akhirnya hanya bisa mengulas senyum sebagai jawaban. “Pacarnya siapa?” Ada. “Kapan menikah?” *senyum*

Friday, May 14, 2010

ps: i love you


the right tagline: BECAUSE LIFE IS AN ADVENTURE
calm yourself down, groom .. xD

Wednesday, December 6, 2006

Titik dan Koma : Aku dan Kamu

Setiap kau membuka mulutmu, ada hening disana
Waktu berhenti menunggu perkataanmu
Jantungku berdetak lebih cepat menanti kalimatmu
Hatiku berdegup lembut karena ucapanmu

Setiap kau mengeluarkan kata-kata, ada momen disana
Otakku membuka galian, menggali perkataanmu
Vena dan arteriku mengalir lebih deras karenanya
Mengalirkan madu, menelusup ke jantungku
Mengalirkan susu, meresap ke dalam hatiku

Hatiku teremas lembut akan ucapanmu
Kepalaku mengawang di udara
Bulu mataku melentik
Hatiku meledakkan bom madu

Setiap titik tak menjadi debu
Setiap koma tak menjadi abu
Setiap titik menjadi deru
Setiap koma menjadi seru

Setiap titik memberi nafas baru
Setiap koma memberi pengertian baru
Akan hidup
Akan diriku
Akan dirimu

Betapa aku menyayangimu karena semua itu
Jangan bilang kau bingung
Karena aku pun tak tahu, aku pun bingung
Ternyata kita sama-sama bingung.

Thursday, September 21, 2006

bhineka tunggal ika

Aku tak mengerti mengapa perbedaan selalu menjadi masalah. Bahkan bagi mereka yang katanya moderen. Mereka yang mengaku intelek dan selalu mengumbar akan toleransi segala perbedaan. Baik masalah politik, agama, ras, pendapat, dan segalanya. Segalanya. Mngapa selalu mejadi masalah? Berarti mereka menjadi munafik terhadap dirinya sendiri. Kafir bagi keyakinan dan pendapat mereka sendiri. Baiklah, bagian manakah dari perbedaan yang buruk? Sedari duduk di bangku sekolah kita dijejali dengan nilai nilai moral Pancasila, dari yang namanya masih PMP lalu diganti menjadi PPKN, Kewiraan, Pendidikan Pancasila, penataran P4, apalagi silakan sebutkan. Intinya disitu adalah kita sebagai bangsa Indonesia ditekankan untuk menghormati perbedaan dan melakukan toleransi terhadap segala bentuknya. Apapun itu.

Bhineka Tunggal Ika. Berbeda beda namun satu. Konon itulah slogan dan dasar dari rasa ke-Indonesiaan kita. Niscaya slogan ini kadang hanya menjadi pajangan wajib di antara foto presiden dan wakil presiden di tembok sejagat nusantara ini. Aplikasinya belum tentu sesuai dengan segala arti dan perlambang dari setiap unsur gambar dan tulisan di burung garuda itu.

Segala perbedaan itu saya percaya baik, semua tergantung bagaimana manusianya bertindak. Seperti yang baru saja terjadi, ucapan Paus Benedictus XVI yang menyinggung umat Islam. Saya bukan bermaksud memihak, tetapi ini memang isu rentan konflik. Agama, dasar keyakinan manusia. Bila semua pihak dapat menanggapi dengan baik, pasti tak akan terjadi suatu apa bukan. Jangan mudah terpicu amarh, itu saja inti dari bertoleransi. Lalu perbedaan agama ini seringkali menjadi masalah kala memadu kasih. Dua insan berbeda ini menganut asas Bhineka Tunggal Ika yang diyakini dan dijejali sejak kanak-kanak, dan tiba-tiba mendapatkan penolakan kanan kiri, baik dari keluarga, pemerintah, KUA, budaya dan peraturan hukum. Salah satu harus mengorbankan ‘hal pembeda’ tersebut hingga ada ‘persamaan.’ Tak lagi bhineka. Atau pergilah ke ujung dunia, maka ‘perbedaan’ tetap ada.

Bhineka. Lucu. Itu yang saya lihat. Agama masih bagian kecil dari SARA, hal yang tabu untuk tidak ditolerir dalam kehidupan bermasyarakat. Itu yang saya dapat dari pelajaran sekolah. Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan. Suku dan Ras ini juga seringkali menjadi perbedaan yang amat dipermasalahkan. Masih dalam hal memadu kasih, tak ada penerimaan jika tidak ada persamaan. Penyatuan perbedaan? Asimilasi budaya? Bukankan bangsa kita telah mengalaminya beratus-ratus kali? Banyak penganut chauvinisme ini tak sadar, kalau banyak unsur dari budayanya merupakan hasil asimilasi dari budaya lain seperti budaya barat, islam, eropa, dan lainnya.

Jika saya sebutkan satu persatu, kita akan mengulang pelajaran sejarah dari SD sampai SMA. Dan dari pengamatan saya, semua perbedaan SARA yang ditolak lingkungan perihal memadu kasih. Bila berkaitan dengan bule, londo, orang asing saja, semua penolakan luluh. Sepertinya menjadi sah, oke, lumrah, bila dikaitkan dengan mereka. Memangnya mereka siapa? Apakah perbedaan yang mereka miliki berbeda dan lebih baik dari kebhinekaan Indonesia? Siapa yang menilai? Saya tidak akan membahas masalah devisa negara, cukup. Heran bukan? Ternyata lingkungan tersebut masih ingin mengalami asimilasi budaya, tapi bukan dari Indonesia. Lucu, sungguh lucu.

Pengalaman teman-teman pun kadang membuat saya tak habis pikir. Bagaimana dengan modernitas pikiran yang katanya diyakini lingkungan mereka. Sejauh mana modernitas manusia Indonesia mentolerir ke-bhineka-an yang nyatanya ada di sekitar kita? Hmm, dan saya akan menambahkan masalah yang belakangan semakin sering muncul ke permukaan. Homoseksualitas. Ya, mereka berbeda, mereka mungkin deviasi sosial. Tapi nyatanya mereka ada. Sekali lagi, pertanyaannya adalah sejauh mana modernitas pikiran kita mentolerir ke-bhineka-an di sekitar kita? Jika kaum homoseksual ternyata adalah teman baik Anda sendiri, atau bahkan Anda sendiri, bagaimana menyikapinya? Apakah Anda akan menjadi munafik dalam artian mengaku berpikiran modern, intelek, maju hingga mampu mentolerir perbedaan namun menolak mereka atau diri Anda. Atau Anda menjadi manusia yang berpendirian teguh pada keyakinan Anda, yang berarti menerima mereka atau Anda sebagai warna bhineka dalam kehidupan bermasyarakat? Saya tak mau berpanjang-panjang membicarakan homoseksual. Kalau Anda bingung dengan pandangan saya, jika Anda membaca seksama, Anda tahu bagaimana saya memposisikan diri dalam masalah ini.

Sekali lagi pertanyaannya adalah: sejauh mana modernitas pikiran kita mentolerir ke-bhineka-an yang nyatanya ada di sekitar kita?

Sejauh mana Anda berani memperjuangkan keyakinan Anda?